Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah Tentang “Lorong Cangka”

Sekilas, kata “Lorong Cangka” mungkin terdengar agak rada-rada asing di telinga kita. Pantas, karena nama tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia. Melainkan hanya salah satu dari sebagian banyak ungkapan masyarakat Madura yang berarti “Jalan simpang”, entah itu simpang tiga, empat dan seterusnya. Intinya “Lorong Cangka” adalah ungkapan yang menunjukkan jalan simpang.

Dalam kosa kata bahasa Madura banyak sekali ungkapan menarik yang membuat kita penasaran untuk mengetahui artinya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, sedikit pula orang yang ingin meneliti tentang keberagaman bahasa madura –termasuk orang madura sendiri− yang keunikan budaya, seni serta lainnya tak diragukan lagi.

Falsafah “Lorong Cangka”

Butuh kontemplasi yang memakan waktu lama hanya untuk memberi nama pada blog saya ini. Hingga kemudian saya cendrung berganti-ganti blog, mulai dari nama blog saya yang dulu yaitu “Shareang” yang berarti tunggal dalam bahasa Madura. Tapi karena kurang menyatu dengan kehidupan saya, akhirnya saya hapus blog tadi. Lagi-lagi saya menggunakan istilah madura untuk blog saya.

Detik berganti menit, hari demi hari silih berganti dan pada akhirnya saya menemukan secercah titik terang untuk nama blog. Mulanya, saya membuat semacam database hanya demi memberi nama blog saya ini.

Pertama, saya berpikir dari apakah nama tersebut akan saya ambil. Dan alhasil, saya mantap akan memberi nama blog itu dari sejarah perjalanan merajut cinta monyet saya dengan kekasih saya waktu masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau sederajat dengan Sekolah Dasar (SD). Entah itu cinta monyet atau cinta macam-macam saya tak begitu paham. Intinya dialah yang pertama membuat saya klepek-klepek atau keok. Hikz… Hikz… Mungkin agak lucu memang.

Mengapa harus “Lorong Cangka”?

Sebenarnya itu semua adalah hak privasi saya. Namun, apa salahnya jika saya terus terang dan terang terus agar pikiran saya tak ruwet dan cepat keriput alias tua saat umur masih masih relatif muda.

Langsung aja biar gak bertele-tele, nama blog saya itu terinspirasi dari rumah kekasih saya dulu yang terletak di jalan simpang tiga yang jaraknya bisa dibilang lumayan jauh dari rumah saya sendiri. Orang-orang menyebutnya dengan “Lorong Cangka”.

Entahlah, kekasih monyet saya −Ups… Salah bukan monyet tapi cinta monyet maksudnya− sekarang bagaimana kabarnya, saya kurang tau banyak. Tapi, kata sebagian teman saya bilang dia sudah bertunangan. Aduh…. Memang terkesan melankolis cerita saya ini.

Tapi yang jelas dia telah memberi warna bagi kehidupan saya, dari kelam menjadi berwarna, meski itu tak seberapa. Terpenting, dia telah memberi saya banyak inspirasi. Baik dari penamaan blog ini dan lain-lainnya yang tak mungkin saya sebutkan semua karena itu menyangkut perasaan saya sendiri. He… He… maaf mungkin ending cerita saya ini mengecewakan. Tapi tolong mengertilah.

Terakhir, saya ingin para pembaca agar tak cuma sekali mengunjungi blog saya ini, artinya sering-seringlah berkunjung ke blog terakhir saya ini untuk sekedar sudi mampir dan memberi sedikit komentar demi perjalanan karir saya, yakni mencari inspirasi lewat kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ijinkan Aku, Meminangmu Dalam Kata

Kupandang nanar hadiah yang pernah kau berikan kepadaku, hadiah tanda ulang tahunku. Kala itu, saat semuanya masih berjalan baik-baik saja. Ketika kau masih milikku; meski tak sepenuhnya. Sesekali aku merasa memperoleh apa yang aku inginkan. Tapi, di sisi lain aku takut untuk melupakan atau bahkan kehilanganmu. Kadang aku terlalu naïf mengingat kejadian yang tak seharusnya aku pikirkan lagi dan selayaknya musnah bersama laju waktu. Hati ini terasa sesak mengingat kejadian yang lalu itu, saat aku baru menginjakkan kaki di tanah kampung halaman, kembali dari perjalanan panjangku mencari jati diriku. Tiba-tiba teman karibku datang dengan membawa kabar memilukan tentangmu, tentang pernikahanmu dengan tunanganmu yang katamu kau tak suka padanya. *** Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di benakku, hal yang tak dapat aku cerna dengan mudah. Kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Namun sulit, sakit. Aku tak bisa untuk itu. Aku belum siap kehilanganmu. Karena kehilanganmu sama de...

Pelajar Muda NU digodok Jurnalistik

“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!” (Imam al-Ghazali) Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura. Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010. Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri ...