“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!”
(Imam al-Ghazali)
(Imam al-Ghazali)
Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura.
Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010.
Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC.IPNU-IPPNU) bertempat di Aula Pusdiklat PCNU Sumenep.
Jurnalis Muda
Menjadi jurnalis ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti tak dapat dipelajari. Pasalnya, memasuki hari pertama Diklat Jurnalistik, melalui bimbingan Kak Fida –sapaan akrab Zakiyatul Mufidah— koordinator reporter TV9 membuka wawasan kami tentang dunia jurnalistik dengan unsur dasar berita yaitu “5W+1H”. Senyum ramah ala Kak Fida membuat kami bersemangat mengikuti pelatihan hingga usai, meski kami bisa dikatakan orang yang baru berkenalan dengan dunia jurnalistik tapi ternyata tak terlalu sulit memahaminya.
“Singkatnya, menjadi seorang jurnalis itu cukup dengan mempunyai vitalitas yang kuat dan belajarlah dari kesalahan,” kurang lebih begitu pesan Kak Fida di akhir pertemuannya kepada kami. Mendengar itu dari Kak Fida, rasa optimis untuk menjadi jurnalis muda tumbuh pada diri para peserta.
Di hari kedua, kami mulai siap mental untuk menjadi wartawan dengan tambahan wawasan dari Moh. Hayat, salah satu wartawan Radar Madura (Jawa Pos Group), dengan teknik wawancara yang dia tularkan kepada kami selama menjadi wartawan koran lokal.
Selain itu, kami juga diajari menulis opini dan artikel dengan bimbingan Zainul Ubbadi dari Madura Channel melalui tulisannya “Opini, Mahluk Apakah Dikau?”, kami tak hanya dilatih untuk menjadi seorang jurnalis tapi juga seorang penulis handal.
Di hari terakhir, dengan dibentuk berkelompok kami akan segera diturunkan ke lapangan dan menerima tugas sebagai ‘wartawan’ yaitu hunting news atau ‘berburu’ berita, Uniknya, semua nama kelompok mengambil nama seorang wartawan.
Kelompok kami, Goenawan Mohamad, dengan berbekal ilmu jurnalistik yang diperoleh selama dua hari, serta mendapat tugas turun lapangan mencari informasi seputar “Minat Baca Masyarakat Sumenep”, kami pun menuju Perpustakaan Daerah (PERPUSDA), tempat yang menurut kami paling pas untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.
Dari kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran jalan Trunojoyo Sumenep, melewati sepanjang trotoar berjalan ke utara menuju PERPUSDA berjarak sekitar 1.5 KM di bawah terik matahari yang menyengat dengan semangat wartawan, jarak itu tak terasa hingga sampai di PERPUSDA.
Awalnya, sesampainya di pintu masuk, rasa takut mulai berkecamuk dalam diri kami; takut salah tingkah, salah perkataan, salah mengajukan pertanyaan semua telah mengisi penuh benak kami. Dengan memberanikan diri, akhirnya kami masuk dan menemui Ibu Sri Agustina, koordinator pengelolaan perpustakaan, Tanya jawab pun dimulai. Rasa takut seketika sirna ketika kami jalani. Setelah mempunyai banyak data, kami pun kembali ke kantor PCNU untuk segera membuatnya menjadi berita yang siap dipertanggungjawabkan di depan peserta yang lain dan panitia.
Dalam perjalanan menuju pulang, rasa takut kembali hinggap dalam diri kami, kali ini takut data yang kami peroleh kurang valid dan tidak sesuai. Namun, kami ingat dengan pesan Kak Fida, “Belajarlah dari kesalahan”, kami pun mencoba memantapkan diri bahwa kami adalah jurnalis pemula dan wajar berbuat kesalahan.
Dengan “5W+1H” yang diperoleh dari Kak Fida, kami mencoba menulisnya menjadi berita yang dapat dipahami dengan mudah. Tak sulit ternyata meskipun penggunaan bahasanya agak kaku. Satu lagi tantangan yang harus dihadapi, yaitu mempertanggung jawabkan berita yang kami peroleh.
Data yang kami dapatkan sudah cukup banyak, kini kami siap untuk beradu dengan kelompok lain dengan tugas yang berbeda, kelompok yang lain ada yang mendapat bagian ke KPU Sumenep, KAPOLRES Sumenep, Serta ke para PKL di Sumenep.
Tak disangka, kelompok kami Goenawan Mohamad menjadi kelompok terbaik dalam Diklat Jurnalistik 2010 tersebut. Meskipun hanya dalam tingkat kabupaten, tapi itu cukup membuat kami berbangga dan membawa pulang kesan menarik mengikuti Diklat Jurnalistik.
Selepas itu, kami alumni Diklat Jurnalistik 2010 diamanahi untuk mengisi blog IPNU-IPPNU: www.pelajar-nu.blogspot.com serta akan dibuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk kemudian dijadikan kru dalam media berupa majalah mini yang akan segera digarap guna tetap mempertahankan yang diperoleh. Sebagai langkah awal melahirkan Jurnalis Muda NU.
Komentar
Posting Komentar