Langsung ke konten utama

Ijinkan Aku, Meminangmu Dalam Kata

Kupandang nanar hadiah yang pernah kau berikan kepadaku, hadiah tanda ulang tahunku. Kala itu, saat semuanya masih berjalan baik-baik saja. Ketika kau masih milikku; meski tak sepenuhnya. Sesekali aku merasa memperoleh apa yang aku inginkan. Tapi, di sisi lain aku takut untuk melupakan atau bahkan kehilanganmu. Kadang aku terlalu naïf mengingat kejadian yang tak seharusnya aku pikirkan lagi dan selayaknya musnah bersama laju waktu.

Hati ini terasa sesak mengingat kejadian yang lalu itu, saat aku baru menginjakkan kaki di tanah kampung halaman, kembali dari perjalanan panjangku mencari jati diriku. Tiba-tiba teman karibku datang dengan membawa kabar memilukan tentangmu, tentang pernikahanmu dengan tunanganmu yang katamu kau tak suka padanya.

***

Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di benakku, hal yang tak dapat aku cerna dengan mudah. Kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Namun sulit, sakit. Aku tak bisa untuk itu. Aku belum siap kehilanganmu. Karena kehilanganmu sama dengan membuang separuh jiwaku. Aku sendiri tak mengerti mengapa diriku ini sangat tak bisa untuk melupakanmu apalagi sampai kehilanganmu. Mungkin nama Revalina Dwi Agustin telah merasuk dan menjelma hingga mendarah daging dalam diriku? Aku tak tau.

Waktu itu, kau sempat bilang tak akan menghianatiku untuk yang kedua kalinya. Aku percaya kepadamu hanya saja belum yakin. Dan akhirnya, semua terjawab saat ini. Tapi, kenapa kau lakukan itu sekarang? Apa kau lupa akan sumpahmu? Atau bahkan kau telah lupa akan segalanya? Entahlah. Mungkin sudah sepantasnya aku seperti ini, karena kebodohanku yang telah meracuniku selama ini.

Perlahan. Aku mulai mengumpulkan serpihan ingatanku akan ritual sumpah kita saat itu, saat dinginnya malam mulai sirna karena sang mentari akan segera keluar dari peraduannya. Namun kita tak kunjung selesai dengan hal-ihwal mengenai perjalanan cinta kita yang telah berjam-jam kita bahas; terhanyut dalam dialog tak bertepi.

Andai aku berpikir jernih sejak dahulu, mungkin semuanya tak akan kembali seperti yang kualami saat ini. Luka kembali menganga bahkan berdarah dan tak sempat sempat mengering pula. Semua itu bermula dari diriku. Namun mengapa aku baru menyadari bila semuanya sudah telanjur.

Ah, aku hanya bisa pasrah kepada-Nya, pasrah bukan berarti aku bisa melupakanmu begitu saja. Daya dan upaya telah kulakukan untuk melupakan semua ini. Namun dalam lubuk hatiku yang paling dalam ada getaran lain yang berontak serta dan berkata lain.

Tak terhitung berapa kali aku tumpahkan embun bening dari mataku, hingga mataku terasa gersang bak kemarau tujuh musim tanpa ada sedikit pun hujan yang tumpah. Kata orang aku cengeng, tapi aku yakin jika ada yang merasakan hal yang sama seperti aku rasakan saat ini, bukan hal yang mustahil untuk bermuram durja atau lebih parah dari itu.

“Fan! Andai aku bisa memilih, pasti aku akan pilih kau. Tapi coba mengertilah,” desahmu waktu itu. Tak ada gunanya lagi memohon, ibarat nasi sudah sudah jadi bubur, tak mungkin menjadi nasi kembali. Kenyataan sudah di depan mata. Yang ada dalam benakku saat ini adalah melupakanmu sebisa mungkin.

“Tidak, aku yakin bisa melupakannya. Sama seperti dia melupakan aku,” ucapku membatin, meyakinkan diriku bahwa inilah jalan yang terbaik, jalan yang tuhan buat untukku. Sulitnya menerima takdir sama dengan sulitnya aku melupakanmu dan lesung pipit di pipimu membentuk guratan petir yang tak simetris sarat akan keindahan membuatku hidup dalam lamunan.

Gejolak batin yang timbul setelah kau jauh dariku sungguh membuatku tak kuasa. Hidupku terasa hampa tanpa canda tawa, duka cita saat kita masih bersama. Ekspresi batin bardialog dengan nafsu yang berharap bisa untuk sekedar bertegur sapa kembali. Dan jika aku kembali melihatnya rasa sedih, benci, suka akan melebur jadi satu membentuk gumpalang mendung di mataku.

Dua rasa itu tetap berdialog dalam hatiku selama asa dan harapanku tak kunjung pupus jua untuk terus mengingat raut indah yang tak dapat aku lukiskan dalam dunia nyata. Setiap jengkal perjalanan waktu yang terlewati aku terus mencoba dan kerap pula memaksa untuk benar-benar dapat melupakannya. Ada bisikan yang mengisyaratkan ketakutan untuk dapat melupakannya. Dialog ini membuat kecamuk membuatku terbang dalam masa lalu suram tak berarah.

Permintaan terakhir dariku, meskipun kau tak menjadi milikku, aku turut bahagia karena tuhan memberikan jalan terbaik ini bagiku. Jalan yang aku pun harus belajar melewatinya. Ada banyak hal baru yang aku peroleh setelah kau tak lagi milikku. Percaya inilah yang terbaik bagiku bahkan juga engkau.

Terimakasih telah memberi warna dalam kehidupanku, warna yang sebentar lagi akan luntur bersama petualangan waktu. Satu yang kuinginkan darimu, meski kau bukan bagian dari hidupku lagi, tapi ijinkan aku meminangmu dalam rerimbun dunia kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah Tentang “Lorong Cangka”

Sekilas, kata “Lorong Cangka” mungkin terdengar agak rada-rada asing di telinga kita. Pantas, karena nama tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia. Melainkan hanya salah satu dari sebagian banyak ungkapan masyarakat Madura yang berarti “Jalan simpang”, entah itu simpang tiga, empat dan seterusnya. Intinya “Lorong Cangka” adalah ungkapan yang menunjukkan jalan simpang. Dalam kosa kata bahasa Madura banyak sekali ungkapan menarik yang membuat kita penasaran untuk mengetahui artinya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, sedikit pula orang yang ingin meneliti tentang keberagaman bahasa madura –termasuk orang madura sendiri− yang keunikan budaya, seni serta lainnya tak diragukan lagi. Falsafah “Lorong Cangka” Butuh kontemplasi yang memakan waktu lama hanya untuk memberi nama pada blog saya ini. Hingga kemudian saya cendrung berganti-ganti blog, mulai dari nama blog saya yang dulu yaitu “Shareang” yang berarti tunggal dalam bahasa Madura. Tapi karena kurang menyatu dengan kehidupan s...

Pelajar Muda NU digodok Jurnalistik

“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!” (Imam al-Ghazali) Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura. Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010. Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri ...