Entahlah, aku tidak tau sejak kapan cinta itu hadir dalam hatiku, aku juga tak mengerti mengapa cinta itu hadir di saat orang yang aku cintai tak bisa ku miliki, dan yang paling tidakdimengerti mengapa harus aku yang mencintainya?
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah yang bisa dituturkan dari mulut ke mulut. Tetapi cinta adalah anugerah Ilahi dan semua manusia di dunia pasti pernah merasakannya. Tapi jujur, aku tersiksa dengan anugerah cinta yang di berikan oleh tuhan. Tuhan tidak memberiku cinta yang selayaknya aku miliki tanpa harus melawan adat-istiadat yang sudah tertanam dan mengakar kuat pada masyarakat di daerahku. Menentang adat berarti melawan masyarakat. Itulah jalan yang akan aku tempuh jika aku tetap mempertahankan rasa ini.
Reva. Mungkin nama itu yang pertama kali hadir dan mengisi ruang hatiku. Sejak aku masih berseragam kulit kacang dulu; ketika aku masih dikatakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di salah satu madrasah di daerahku. Aku tak tau ada apa dengan diriku waktu itu, seakan ada yang lain saat aku mulai mengenalnya, dialah orang yang pertama mengajariku tentang arti kehidupan. Lucu jika ku ingat masa lalu ketika aku masih anak bau kencur. Tapi aku yakin dialah orang yang pertama yang membuat hatiku luluh.
Sayang, keadaannya dulu tidak seperti sekarang. Salah jika sekarang aku paksakan perasaan ini. Karena dia tak bisa aku miliki, dia tak pantas untukku cintai, aku salah mencintainya. Dia sudah bukan milikku, melainkan milik orang lain, jari manisnya sudah terselipkan cincin, dia sudah terlanjur dipinang orang yang mungkin bisa membuatnya bahagia di masa mendatang─masa di mana dia akan menyusui bayi mungilnya. Betapa indahnya masa itu─tidak seperti aku layaknya seorang pecundang, pengecut yang tidak berani mengutarakan isi hati sendiri yang sudah ada sejak beberapa masa yang telah silam.
Kenapa tuhan harus memberiku cinta di saat orang yang aku cintai tak mungkin aku miliki? Aku harus belajar melupakannya, meski mungkin itu mustahil aku lakukan. Melupakannya sama dengan menghunuskan belati tajam ke jantungku sendiri. Aku tak kuasa dengan dengan perasaan yang aku alami saat ini. Kenapa tuhan harus berikan cinta ini kepada diriku; cinta yang akupun harus berjuang untuk mendapatkannya. Aku sadar, cinta memang butuh perjuangan, tapi seandainya aku berjuang untuk cinta ini, tak sedikit orang yang akan menentangku, atau bahkan berani melawanku. Haruskah aku pasrah di atas takdir-Nya? Tuhan yang memberiku cinta. Salahkah jika aku perjuangkan anugerah cinta yang tuhan berikan kepadaku?
Aneh bukan? Itulah cinta, cinta memang buta, cinta bisa membuat orang bahagia di kala cinta yang dijalani sesuai dengan maksud hati. Begitu juga sebaliknya, cinta juga bisa berbuah kesengsaraan.
Entahlah, aku tak tau apa yang ada di pikiran Reva, aku juga tak dapat membaca peta kehidupannya, semua bagaikan teka-teki bagiku. Reva mungkin cinta pertamaku, sehingga sampai saat inipun aku sulit untuk menghapus namanya dari memori otakku. Benar kata orang “cinta pertama sulit untuk dilupakan.”
Teman karib selalu mengajariku berpikir logis; berpikir tentang masa depanku, masa depan yang seakan suram karena rasa ini, mengajariku berpikir bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Tapi cinta harus memilih di antara banyak pilihan dan tak selamanya pilihan itu memihak pada kita.
Hari-hari yang ku jalani dengannya kini terasa sunyi, waktu terus berlalu tanpa disadari yang ada hanyalah perjalanan tanpa tujuan yang pasti, tak ubahnya busa di tengah lautan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, mungkin bukan hanya tak pasti tapi tidak mungkin. Aku tak dapat meraih bulan tapi aku punya banyak harapan bisa melihat sinarnya ketika purnama nanti, aku bahagia meskipun hanya melihat sinarnya.
Tak sedikit teman-teman yang memperingatkanku kalau posisiku dalam posisi salah, posisi yang tak seharusnya aku tempuh. Tapi semua itu hanya akan membuat semangatku semakin berkobar untuk mendapatkan Reva. Dia begitu berarti bagiku, begitu berharga untuk ku lepaskan begitu saja, meski keinginan ini hanya sebatas rasa yang tak bisa aku wujudkan dalam dunia nyata.
Tak mengingatnya saja bagaikan kematian bagiku dan bila ku mengingatnya, aku teringat dengan lantunan bait-bait lagu aku sakit-nya grup band Wali. Sulit rasanya bangun dari tidur panjang ini, sulit rasanya sadar dari mimpi tentangnya.
Rasa cinta ini semakin memuncak. Aku tidak dapat berbuat banyak akan cinta yang aku alami saat ini. Karena aku mencintai orang yang salah. Tapi, aku ingin tetap bersamanya meskipun aku aku tak pernah tau apakah ini selamanya atau hanya sementara.
“Aku tak tau, apakah pesonanya yang memikat atau akalku tak lagi di tempat” kata-kata itu selalu terngiang di telingaku, Memberiku sejuta inspirasi sekaligus memberi pelajaran moral bahwa cinta memang membutakan.
Entahlah, apa yang harus aku ucapkan di penghujung kisah ini. Kata maafkah atau terima kasih, atau mungkin keduanya? Maaf jika aku terlalu mementingkan perasaanku, sungguh aku merasa tersiksa dengan perasaan yang selama ini aku alami. Tapi aku ingin terus bersamanya melewati hari-hari dengan sejuta harapan. Dan maaf jika ini menyakitkan.
Terima kasih untuk teman karibku, Avie, yang selalu mengajariku berpikir logis. Aku tak bisa lakukan itu untuk saat ini. Andai kau berada dalam posisiku. Pasti kau mengerti. Sekali lagi maaf!
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah yang bisa dituturkan dari mulut ke mulut. Tetapi cinta adalah anugerah Ilahi dan semua manusia di dunia pasti pernah merasakannya. Tapi jujur, aku tersiksa dengan anugerah cinta yang di berikan oleh tuhan. Tuhan tidak memberiku cinta yang selayaknya aku miliki tanpa harus melawan adat-istiadat yang sudah tertanam dan mengakar kuat pada masyarakat di daerahku. Menentang adat berarti melawan masyarakat. Itulah jalan yang akan aku tempuh jika aku tetap mempertahankan rasa ini.
Reva. Mungkin nama itu yang pertama kali hadir dan mengisi ruang hatiku. Sejak aku masih berseragam kulit kacang dulu; ketika aku masih dikatakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di salah satu madrasah di daerahku. Aku tak tau ada apa dengan diriku waktu itu, seakan ada yang lain saat aku mulai mengenalnya, dialah orang yang pertama mengajariku tentang arti kehidupan. Lucu jika ku ingat masa lalu ketika aku masih anak bau kencur. Tapi aku yakin dialah orang yang pertama yang membuat hatiku luluh.
Sayang, keadaannya dulu tidak seperti sekarang. Salah jika sekarang aku paksakan perasaan ini. Karena dia tak bisa aku miliki, dia tak pantas untukku cintai, aku salah mencintainya. Dia sudah bukan milikku, melainkan milik orang lain, jari manisnya sudah terselipkan cincin, dia sudah terlanjur dipinang orang yang mungkin bisa membuatnya bahagia di masa mendatang─masa di mana dia akan menyusui bayi mungilnya. Betapa indahnya masa itu─tidak seperti aku layaknya seorang pecundang, pengecut yang tidak berani mengutarakan isi hati sendiri yang sudah ada sejak beberapa masa yang telah silam.
Kenapa tuhan harus memberiku cinta di saat orang yang aku cintai tak mungkin aku miliki? Aku harus belajar melupakannya, meski mungkin itu mustahil aku lakukan. Melupakannya sama dengan menghunuskan belati tajam ke jantungku sendiri. Aku tak kuasa dengan dengan perasaan yang aku alami saat ini. Kenapa tuhan harus berikan cinta ini kepada diriku; cinta yang akupun harus berjuang untuk mendapatkannya. Aku sadar, cinta memang butuh perjuangan, tapi seandainya aku berjuang untuk cinta ini, tak sedikit orang yang akan menentangku, atau bahkan berani melawanku. Haruskah aku pasrah di atas takdir-Nya? Tuhan yang memberiku cinta. Salahkah jika aku perjuangkan anugerah cinta yang tuhan berikan kepadaku?
Aneh bukan? Itulah cinta, cinta memang buta, cinta bisa membuat orang bahagia di kala cinta yang dijalani sesuai dengan maksud hati. Begitu juga sebaliknya, cinta juga bisa berbuah kesengsaraan.
Entahlah, aku tak tau apa yang ada di pikiran Reva, aku juga tak dapat membaca peta kehidupannya, semua bagaikan teka-teki bagiku. Reva mungkin cinta pertamaku, sehingga sampai saat inipun aku sulit untuk menghapus namanya dari memori otakku. Benar kata orang “cinta pertama sulit untuk dilupakan.”
Teman karib selalu mengajariku berpikir logis; berpikir tentang masa depanku, masa depan yang seakan suram karena rasa ini, mengajariku berpikir bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Tapi cinta harus memilih di antara banyak pilihan dan tak selamanya pilihan itu memihak pada kita.
Hari-hari yang ku jalani dengannya kini terasa sunyi, waktu terus berlalu tanpa disadari yang ada hanyalah perjalanan tanpa tujuan yang pasti, tak ubahnya busa di tengah lautan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, mungkin bukan hanya tak pasti tapi tidak mungkin. Aku tak dapat meraih bulan tapi aku punya banyak harapan bisa melihat sinarnya ketika purnama nanti, aku bahagia meskipun hanya melihat sinarnya.
Tak sedikit teman-teman yang memperingatkanku kalau posisiku dalam posisi salah, posisi yang tak seharusnya aku tempuh. Tapi semua itu hanya akan membuat semangatku semakin berkobar untuk mendapatkan Reva. Dia begitu berarti bagiku, begitu berharga untuk ku lepaskan begitu saja, meski keinginan ini hanya sebatas rasa yang tak bisa aku wujudkan dalam dunia nyata.
Tak mengingatnya saja bagaikan kematian bagiku dan bila ku mengingatnya, aku teringat dengan lantunan bait-bait lagu aku sakit-nya grup band Wali. Sulit rasanya bangun dari tidur panjang ini, sulit rasanya sadar dari mimpi tentangnya.
Rasa cinta ini semakin memuncak. Aku tidak dapat berbuat banyak akan cinta yang aku alami saat ini. Karena aku mencintai orang yang salah. Tapi, aku ingin tetap bersamanya meskipun aku aku tak pernah tau apakah ini selamanya atau hanya sementara.
“Aku tak tau, apakah pesonanya yang memikat atau akalku tak lagi di tempat” kata-kata itu selalu terngiang di telingaku, Memberiku sejuta inspirasi sekaligus memberi pelajaran moral bahwa cinta memang membutakan.
Entahlah, apa yang harus aku ucapkan di penghujung kisah ini. Kata maafkah atau terima kasih, atau mungkin keduanya? Maaf jika aku terlalu mementingkan perasaanku, sungguh aku merasa tersiksa dengan perasaan yang selama ini aku alami. Tapi aku ingin terus bersamanya melewati hari-hari dengan sejuta harapan. Dan maaf jika ini menyakitkan.
Terima kasih untuk teman karibku, Avie, yang selalu mengajariku berpikir logis. Aku tak bisa lakukan itu untuk saat ini. Andai kau berada dalam posisiku. Pasti kau mengerti. Sekali lagi maaf!
brand termahal di dunia
BalasHapus