Langsung ke konten utama

Rindu Padamu, Facebook!

“Sudah berapa purnama tak sua denganmu, membuatku rindu akan segalanya; rindu akan canda tawa ketika kubersamamu,” rengekku dalam hati. Entah, sudah berapa bulan aku tak membuka akun facebookku. Bukan karena seperti yang terjadi di Pakistan, pemblokiran terkait Kontes bertema "Everybody Draw Mohammed Day" di Facebook. Melainkan karena ketidaklayakan santri dalam mengakses jejaring sosial itu, kira-kira begitu kata salah seorang pengurus pesantren tempatku mondok.

Facebook, jejaring sosial yang dirintis pada tahun 2006 oleh salah seorang mahasiswa Harvard University bernama Mark Zuckerberg. Dan kemudian menggejala di indonesia pada pertengahan tahun 2008 dengan tampilannya simple, komplit dan tak seribet jejaring sosial lainnya.

Di Annuqayah, jejaring ini baru dikenal sekitar awal tahun 2009 itupun hanya di kalangan para pengasuh muda atau dikenal dengan “Lora” Annuqayah hingga kemudian menular kepada santri yang bisa mengakses internet sampai akhirnya santri yang tak pernah mengakses internet pun mempunyai keinginan yang kuat untuk coba-coba.

Pada akhir tahun 2009, kurang lebih 70% santri Annuqayah mempunyai akun Facebook, sebagian dari mereka berawal dari rasa ingin coba-coba hingga kemudian kecanduan dan kesehariannya ingin selalu digunakan untuk FB-an. Dan sebagiannya lagi hanya pengisi waktu senggang ketika mampir di warnet untuk tugas sekolah sehingga butuh referensi dari internet.

Seorang pengurus tempatku mondok pernah bilang. “Facebook, bahaya diakses oleh santri! selain bisa membuat kecanduan juga dijadikan alat untuk berkomunikasi dengan orang yang lain muhrim atau bahkan hubungan antara santri putra ke putri begitu juga sebaliknya”.
Menurutku, semua hal baru pasti mempunyai sisi baik dan buruk. Tergantung darimana kita akan melihat dan menilainya, tapi kebanyakan dari kita lebih dulu melihat sisi buruknya tanpa memandang juga sisi baiknya. Setidaknya, pengalaman ini mengajariku untuk tidak mengovergeneralisasi suatu hal.

Ketika kita tak suka akan satu hal bukan berarti kita harus membenci atau bahkan melarangnya. Sesuatu hal akan dianggap baik oleh seseorang ketika hal tersebut mempunyai sisi kebaikan yang lebih banyak dibandingkan dengan sisi keburukannya (bagi orang tersebut). Begitu pula sebaliknya Sesuatu hal akan dianggap buruk oleh seseorang ketika hal tersebut mempunyai sisi keburukan yang lebih banyak dibandingkan dengan sisi baiknya (bagi orang tersebut).

Menilai dengan sebelah mata, ketika orang mengatakan itu buruk, kita mudah ikut tanpa mencari sisi buruk manakah yang mereka nilai. Terlebih, Masyarakat kita pada umumnya sering terjebak dalam kesalahan berpikir. Kesalahan berpikir ini adalah
overgeneralisasi suatu hal tanpa melihat sisi lain di balik peristiwa itu. Pola pikir alternatif terkadang diperlukan ketika terjadi hal yang sulit dicarikan jalan keluar.
Berpikir positif memiliki dampak dan pengaruh besar dalam kehidupan. Saat kita mulai berpikir positif, kekuatan besar datang mengimbangi cara berpikir kita untuk tetap melakukan hal-hal baik dengan cara yang baik. Dengan berpikir positif, kita akan terhindar dari dampak kehidupan yang buruk serta tak mudah memandang sebelah mata. Semoga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah Tentang “Lorong Cangka”

Sekilas, kata “Lorong Cangka” mungkin terdengar agak rada-rada asing di telinga kita. Pantas, karena nama tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia. Melainkan hanya salah satu dari sebagian banyak ungkapan masyarakat Madura yang berarti “Jalan simpang”, entah itu simpang tiga, empat dan seterusnya. Intinya “Lorong Cangka” adalah ungkapan yang menunjukkan jalan simpang. Dalam kosa kata bahasa Madura banyak sekali ungkapan menarik yang membuat kita penasaran untuk mengetahui artinya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, sedikit pula orang yang ingin meneliti tentang keberagaman bahasa madura –termasuk orang madura sendiri− yang keunikan budaya, seni serta lainnya tak diragukan lagi. Falsafah “Lorong Cangka” Butuh kontemplasi yang memakan waktu lama hanya untuk memberi nama pada blog saya ini. Hingga kemudian saya cendrung berganti-ganti blog, mulai dari nama blog saya yang dulu yaitu “Shareang” yang berarti tunggal dalam bahasa Madura. Tapi karena kurang menyatu dengan kehidupan s...

Ijinkan Aku, Meminangmu Dalam Kata

Kupandang nanar hadiah yang pernah kau berikan kepadaku, hadiah tanda ulang tahunku. Kala itu, saat semuanya masih berjalan baik-baik saja. Ketika kau masih milikku; meski tak sepenuhnya. Sesekali aku merasa memperoleh apa yang aku inginkan. Tapi, di sisi lain aku takut untuk melupakan atau bahkan kehilanganmu. Kadang aku terlalu naïf mengingat kejadian yang tak seharusnya aku pikirkan lagi dan selayaknya musnah bersama laju waktu. Hati ini terasa sesak mengingat kejadian yang lalu itu, saat aku baru menginjakkan kaki di tanah kampung halaman, kembali dari perjalanan panjangku mencari jati diriku. Tiba-tiba teman karibku datang dengan membawa kabar memilukan tentangmu, tentang pernikahanmu dengan tunanganmu yang katamu kau tak suka padanya. *** Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di benakku, hal yang tak dapat aku cerna dengan mudah. Kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Namun sulit, sakit. Aku tak bisa untuk itu. Aku belum siap kehilanganmu. Karena kehilanganmu sama de...

Pelajar Muda NU digodok Jurnalistik

“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!” (Imam al-Ghazali) Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura. Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010. Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri ...