(Catatan bagi kamu muda saat ini)
Semua orang tak terkecuali remaja tentu punya keinginan untuk menjadi orang hebat dan sukses dalam berbagai hal serta diakui keberadaannya, dikenal dan dikagumi keadaannya, diterima hasil karyanya, dipuji penampilannya, dan ditunggu kehadirannya. Pasti dong! Siapa sih yang gak ingin seperti itu? Artinya, seorang remaja ingin dirinya baik menurut dirinya sendiri dan baik pula di mata orang lain. Hal ini wajar dimiliki para remaja karena hasrat kaum mudanya masih membara. Bang H. Rhoma Irama dalam sebuah lirik lagunya mendendangkan bahwa “darah muda darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah, masa muda masa yang berapi-api yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli”.
Namun, pada kenyataannya remaja nggak begitu paham dan mengerti bagaimana berproses untuk bisa menjadi orang pada kategori di atas, justru mereka cenderung mempunyai perspektif salah yang mengangap semua hal dapat dilakukan belakangan seperti layaknya film-film di ending ceritanya; menjadi baik belakangan.
Masa Lembab Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Masa kanak-kanak mengantarkannya pada pintu usia kedewasaan yang mungkin dalam diri mereka masih melekat sifat ke-childish-annya.
Masa perpindahan orientasi dari kanak-kanak menuju kedewasaan tersebut kerap menuai keterkejutan, shock dan kebingungan pada diri remaja disebut juga masa 'lembab' bagi remaja. Karena pada masa inilah semua karakter bisa 'tumbuh-mengakar' bila tak cermat dalam melalui masa penuh fantasi ini.
Selain itu, remaja juga merupakan salah satu elemen perkembangan yang siap mengakses seluruh tatanan nilai yang bersentuhan dengan segala aspek kehidupan, dalam keadaan dan taraf tertentu, insting sorting (memilah dan memilih) masih tidak dapat diandalkan. Akibatnya, nilai apapun dapat terserap tanpa proses sorting yang baik pula.
Akibatnya, krisis rasa malu pun pada diri remaja mencapai puncaknya, dengan istilah “anak baru gede” mereka tak merasa canggung lagi melakukan hal yang aib menurut agama. Justru suatu pemandangan yang 'aneh bin ajaib' bila ada seorang merasa malu melakukan semua itu. Gelaran kuper, kutu buku, sok alim, anak kampungan bakal segera menyerangnya.
Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh ke dalam kejelekan adalah rasa malu. Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.”
Sebenarnya malu itu apa sih, Pren? Dari segi bahasa, “malu” itu adalah kata sifat sedangkan si empunya disebut sebagai “pemalu” yang artinya segan melakukan sesuatu di luar kemauannya sendiri.
Para ulama menjelaskan malu adalah akhlak yang dapat membawa seseorang meninggalkan perbuatan tercela dan mencegah dari mengurangi hak yang lainnya. Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu, malu yang ada pada diri manusia ada dua macam:
Pertama, malu yang berasal dari tabiat dasar seseorang. Ada sebagian orang yang Allah anugerahi sifat malu sehingga orang itu sudah pemalu dari sononya (sejak kecil). Tidak berinteraksi kecuali pada sesuatu yang penting menurutnya. Ini dia, Pren. Orang uzlah di jaman modern namanya.
Kedua, malu yang didapat dari latihan bukan pembawaan. Artinya, seseorang tadi bukan seorang pemalu. Dia cakap dalam berbicara dan tangkas berbuat apa pun. Lantas, dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan baik, sehingga dia ketularan sifat itu dari mereka. Malu yang bersifat pembawaan itu lebih utama daripada yang kedua ini.
Seharusnya, kita patut bersyukur karena telah dianugerahi rasa malu. Rasa malu adalah pembeda antara manusia dengan hewan. Malu merupakan sifat yang terpuji yang dapat mencegah pemiliknya dari melaksanakan kejelekan atau menjatuhkan pada keharaman.
Sekarang, di masa kayak ginilah para remaja dituntut untuk mencari figur yang bisa dijadikan suri tauladan dalam perjalanan mencari jati diri menuju kedewasaan berfikir, bertingkah laku, serta pola kehidupannya.
Pencarian Figur
MuDaers—istilahnya KOMPAS—disebut dengan, adalah masa yang membutuhkan bimbingan dari keberadaan orang tua di sisinya. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian anaknya di masa setelahnya. Menjadi orang tua yang baik bukan berarti selalu mendampingi kemanapun sang anak pergi serta 'menyetir' anaknya sehingga pada akhirnya ia merasa jenuh dan bosan berkumpul dengan keluarga. Ingat! Figur dapat menentukan kepribadian remaja. Salah dalam memilih figur dapat berakibat pada masa depannya.
Mencari figur yang baik tentunya butuh waktu yang tak sedikit, untuk mengetahui karakter seseorang saja tidak cukup dengan melihatnya secara sepintas. Orang tua dibutuhkan kerja aktif dalam membantu mencarikan figur sang anak, bukan berarti orang tua ikut campur terhadap hak privasi sang anak, hanya saja orang tua sebagai pengontrol di saat sang anak bergelagat tak seperti biasanya.
Dalam dunia islam, figur paling dipuja dan dipuji adalah Nabi Muhammad SAW—bukan berarti penulis memvonis agar Nabi Muhammad dijadikan figur bagi remaja kita saat ini. Paling tidak janganlah meniru gaya dan pergaulan barat yang sudah di luar batasan orang islam.
Sebuah solusi
Buat para MuDaers, malu itu sifat yang pasti ada dalam diri seseorang termasuk juga makhluk yang bernama remaja, namun, rasa malu kadang hilang gara-gara terkikis oleh pergaulan yang salah, untuk menjadi remaja ideal kita harus punya seorang yang patut diteladani dan mau meneladaninya.
Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang artinya, “Malu itu termasuk keimanan dan keimanan itu tempat di surga sementara kekejian itu termasuk kekerasan dan kekerasan itu tempat di neraka.”
Jadi, buat kamu yang ingin menjadi remaja gaul plus sholeh serta masuk surga kelak buruan perbaiki diri kalian dari sekarang! Janganlah jadi remaja kacangan! Satu kata terakhir untukmu, Nothing is Impossible! Semoga...
stek pohon durian
BalasHapus