Langsung ke konten utama

Postingan

Pelajar Muda NU digodok Jurnalistik

“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!” (Imam al-Ghazali) Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura. Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010. Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri ...

Rindu Padamu, Facebook!

“Sudah berapa purnama tak sua denganmu, membuatku rindu akan segalanya; rindu akan canda tawa ketika kubersamamu,” rengekku dalam hati. Entah, sudah berapa bulan aku tak membuka akun facebookku. Bukan karena seperti yang terjadi di Pakistan, pemblokiran terkait Kontes bertema "Everybody Draw Mohammed Day" di Facebook. Melainkan karena ketidaklayakan santri dalam mengakses jejaring sosial itu, kira-kira begitu kata salah seorang pengurus pesantren tempatku mondok. Facebook, jejaring sosial yang dirintis pada tahun 2006 oleh salah seorang mahasiswa Harvard University bernama Mark Zuckerberg. Dan kemudian menggejala di indonesia pada pertengahan tahun 2008 dengan tampilannya simple, komplit dan tak seribet jejaring sosial lainnya. Di Annuqayah, jejaring ini baru dikenal sekitar awal tahun 2009 itupun hanya di kalangan para pengasuh muda atau dikenal dengan “Lora” Annuqayah hingga kemudian menular kepada santri yang bisa mengakses internet sampai akhirnya santri yang tak pernah m...

Sepenggal Kisah Tentang “Lorong Cangka”

Sekilas, kata “Lorong Cangka” mungkin terdengar agak rada-rada asing di telinga kita. Pantas, karena nama tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia. Melainkan hanya salah satu dari sebagian banyak ungkapan masyarakat Madura yang berarti “Jalan simpang”, entah itu simpang tiga, empat dan seterusnya. Intinya “Lorong Cangka” adalah ungkapan yang menunjukkan jalan simpang. Dalam kosa kata bahasa Madura banyak sekali ungkapan menarik yang membuat kita penasaran untuk mengetahui artinya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, sedikit pula orang yang ingin meneliti tentang keberagaman bahasa madura –termasuk orang madura sendiri− yang keunikan budaya, seni serta lainnya tak diragukan lagi. Falsafah “Lorong Cangka” Butuh kontemplasi yang memakan waktu lama hanya untuk memberi nama pada blog saya ini. Hingga kemudian saya cendrung berganti-ganti blog, mulai dari nama blog saya yang dulu yaitu “Shareang” yang berarti tunggal dalam bahasa Madura. Tapi karena kurang menyatu dengan kehidupan s...

Prasasti Lukaku

Entahlah, aku tidak tau sejak kapan cinta itu hadir dalam hatiku, aku juga tak mengerti mengapa cinta itu hadir di saat orang yang aku cintai tak bisa ku miliki, dan yang paling tidakdimengerti mengapa harus aku yang mencintainya? Cinta bukanlah kata murah dan lumrah yang bisa dituturkan dari mulut ke mulut. Tetapi cinta adalah anugerah Ilahi dan semua manusia di dunia pasti pernah merasakannya. Tapi jujur, aku tersiksa dengan anugerah cinta yang di berikan oleh tuhan. Tuhan tidak memberiku cinta yang selayaknya aku miliki tanpa harus melawan adat-istiadat yang sudah tertanam dan mengakar kuat pada masyarakat di daerahku. Menentang adat berarti melawan masyarakat. Itulah jalan yang akan aku tempuh jika aku tetap mempertahankan rasa ini. Reva. Mungkin nama itu yang pertama kali hadir dan mengisi ruang hatiku. Sejak aku masih berseragam kulit kacang dulu; ketika aku masih dikatakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di salah satu madrasah di daerahku. Aku tak tau ada apa dengan diriku waktu ...